Tren “Healing” yang Kadang Malah Bikin Dompet Menipis 💸
Pernah nggak sih, baru hari Senin tapi rasanya hidup udah kayak final boss? Tugas numpuk, chat belum dibalas, sekolah bikin kepala panas, belum lagi masalah lain yang datangnya kayak paket COD—nggak diundang, tapi tiba-tiba ada.
Terus kita mikir, “Kayaknya gue butuh healing deh.”
Dan dimulailah perjalanan mencari ketenangan.
Awalnya cuma mau nongkrong sebentar di kafe. Katanya, “Cuma beli minum kok.” Tapi begitu sampai, tiba-tiba pesan kopi, makanan, dessert, bahkan foto-foto buat story. Totalnya? Rp100 ribuan lebih.
Besoknya dompet dibuka.
“Loh... kok tinggal segini?”
Healing memang berhasil bikin hati senang. Tapi dompet malah mengalami krisis identitas.
Healing Sekarang Harus Estetik?
Entah sejak kapan healing identik dengan pergi ke tempat yang bagus, makan makanan mahal, ngopi di kafe yang interiornya estetik, atau liburan ke tempat yang lagi viral.
Scroll media sosial sedikit, langsung muncul:
“Solo traveling buat healing 🌿”
“Me time di cafe ☕”
“Staycation karena butuh recharge ✨”
“Self reward karena sudah survive minggu ini 🥹”
Lihat postingan begitu, kita yang tadinya cuma rebahan di kamar langsung merasa hidup kurang lengkap.
“Kayaknya gue juga harus healing.”
Padahal sebelumnya baik-baik saja.
Akhirnya ikut-ikutan pergi. Bukan karena benar-benar butuh, tapi karena FOMO alias takut ketinggalan tren.
Yang tadinya cuma capek sekolah, sekarang jadi capek sekolah plus capek mikirin uang.
Healing atau Boros Berkedok Self Reward?
Self reward sebenarnya nggak salah. Setelah melewati hari yang melelahkan, membeli sesuatu yang kita suka memang bisa membuat kita senang.
Masalahnya adalah ketika setiap merasa capek, solusinya selalu:
“Belanja.”
Capek → checkout.
Sedih → checkout.
Dapat nilai bagus → checkout.
Dimarahin guru → checkout.
Bosan → checkout.
Lama-lama bukan self reward lagi, tapi self miskin. 😭
Apalagi kalau barang yang dibeli sebenarnya nggak terlalu dibutuhkan. Baru dua hari lalu beli, minggu depannya sudah ada barang baru yang katanya, “Wajib punya!”
Padahal yang wajib sebenarnya cuma satu:
Bayar tagihan.
Healing Nggak Harus Menguras Saldo
Padahal healing itu nggak harus mahal.
Kadang hal sederhana justru lebih ngaruh. Tidur lebih awal, nonton film favorit, dengerin musik sambil rebahan, jalan sore, main sama teman, baca buku, atau sekadar makan bersama keluarga.
hal yang sederhana kadang membuat kita jauh lebih bahagia dari pada makan di cafe mahal.
Kamar sendiri juga bisa jadi tempat healing.
Yang penting bukan seberapa mahal tempatnya, tapi apakah setelah melakukannya kita merasa lebih tenang dan siap menjalani aktivitas lagi.
Karena jujur saja, ngapain healing kalau pulangnya malah buka mobile banking sambil merem-melek?
“Tenang sih, tapi saldo gue kok ikut menghilang?”
Jadi, Haruskah Berhenti Healing?
Nggak juga.
Healing tetap boleh. Jalan-jalan tetap boleh. Nongkrong tetap boleh. Self reward juga boleh banget.
Yang penting tahu batas.
Jangan sampai kita membeli kebahagiaan dengan uang yang sebenarnya belum kita punya. Jangan juga membandingkan kehidupan kita dengan apa yang terlihat di media sosial. Kita nggak pernah tahu apa yang terjadi di balik foto estetik orang lain.
Jadi, kalau hari ini kamu lagi capek, nggak apa-apa istirahat.
Kalau punya uang dan memang ingin jalan-jalan, silakan.
Tapi kalau saldo sudah memberikan kode keras:
“Tolong jangan healing lagi, aku juga butuh hidup.”
Mungkin sudah waktunya memilih healing yang lebih ramah dompet. 😂
Karena pada akhirnya, healing itu seharusnya menyembuhkan stres, bukan memindahkannya dari kepala ke rekening.